Perekonomian Kabupaten Rembang terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Laju Pertumbuhan (y-on-y) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang baru saja dirilis hari ini, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Rembang pada Triwulan II tahun 2026 tercatat berada di angka 5,65%. Meskipun capaian ini sedikit melambat dibandingkan Triwulan I yang menyentuh angka 6,64%, perekonomian daerah tetap menunjukkan resiliensi yang baik.
Dari 17 kategori lapangan usaha yang diamati, dinamika ekonomi menunjukkan pergerakan yang cukup fluktuatif antarsektor. Sektor Pertambangan dan Penggalian menjadi bintang utama pada triwulan ini. Sektor tersebut mencatatkan lonjakan pertumbuhan yang sangat signifikan, yakni meroket hingga 36,78%. Angka ini berbalik drastis dari performa pada Triwulan I di mana sektor ini sempat mengalami kontraksi sebesar -0,46%.
Selain pertambangan, beberapa sektor lain juga menorehkan pertumbuhan dua digit yang impresif pada Triwulan II. Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh sebesar 15,99%, disusul oleh sektor Konstruksi yang menguat di angka 14,50%, serta Pengadaan Listrik dan Gas yang tumbuh sebesar 11,31%.
Di sisi lain, tantangan cukup berat tengah dihadapi oleh beberapa sektor krusial yang justru mengalami pertumbuhan negatif pada periode April hingga Juni 2026. Penurunan paling mencolok terjadi pada sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang anjlok ke level -6,55%. Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan kinerjanya di Triwulan I, di mana sektor ini sempat menjadi motor penggerak utama dengan pertumbuhan sebesar 13,27%.
Selain sektor pertanian, dua sektor lain yang juga mencatatkan angka minus di Triwulan II adalah sektor Transportasi dan Pergudangan (-0,27%) serta sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (-0,11%).
Sebagai informasi, data PDRB Kabupaten Rembang ini dihitung atas dasar harga konstan (2010=100) dan menjadi indikator penting dalam mengevaluasi performa berbagai sektor industri maupun jasa di daerah tersebut. Fluktuasi yang terjadi, terutama pergeseran penopang pertumbuhan dari sektor pertanian ke sektor pertambangan, diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dan para pelaku usaha untuk menyusun strategi ekonomi di paruh kedua tahun 2026.